Tuesday, June 5, 2012

Review Buku Sistem Sosial Indonesia Bab 4-5 (Dr. Nasikun)

    Dalam dua bab terakhir buku Sistem Sosial Indonesia, pengarang memaparkan berbagai konflik dan kemajemukan masyarakat Indonesia yang mengarah pada integrasi bangsa. Perbedaan strata horizontal hingga vertikal meyebabkan kemajemukan indonesia semakin kentara. Bahkan meruju pada konflik yang berbentuk siklus. Perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama, regional, dan pelapisan sosial saling jalin-menjalin suatu kebulatanyang kompleks, serta menjadi dasar bagi terjadinya pengelompokan masyarakat Indonesia. Kemudian akan memicu munculnya kelompok semu hingga kelompok kepentingan yang akan mengedepankan kepentingan kelompok atau dirinya dibandingkan dengan kemaslahatan bersama.

    Pengarang mendeskripsikan bahwa struktur kepartaian sebagai perwujudan struktur sosial masyarakat Indonesia. Pengelompokan berdasarkan kriteria tertentu dalam masyarakat, menimbulkan perbedaan paham yang sangat signifikan diantara mereka. Berdirinya partai-partai sebagai wujud partisipas politik, membuat pengelompokan semakin beragam sesuai dengan paham politik dan visi yang dimiliki. Mereka berdiri sendiri sebagai perkumpulan yang memiliki visi dan misi sendiri bagi kelompok mereka dan cita-cita sebagai bangsa yang berdaulat. Kemudian ada beberapa partai yang memutuskan untuk berkoalisi dan membentuk partai baru. Hal tersebt berarti menyatukan faham dari beberapa golongan untuk kemudian bersatu membentuk perkumpulan baru dengan partai baru sebagai perwujudannya. Berhasil tidaknya fusi partai-partai politik tersebut, justru akan sangat bergantung pada seberapa jauh perubahan-perubahan sosial-kultural yang mendasari pola kepartaian di Indonesia.

    Setiap partai politik memiliki authority tersendiri di sebagian kelompok masyarakat Indonesia. Penggolongan masyarakat berdasarkan kriteria tertentu, membuat partai politik menggalang kekuatan dimana dia diyakini dan diagungkan. Setiap partai politik mendapat banyak dukungan di kelompok sosial mayarkat tertentu. Sedangkan partai politik lainnya hanya akan kuat di daerah authority nya sendiri. Tergantung dari banyaknya populasi kelompok sosial yang dikelompokkan pada suatu kelompok sosial tertentu, maka partai yang terkuat dengan paling banyak massa yang akan memenangkan pemilu. Ini berati bahwa banyak populasi suatu kelompok yang dikelompokkan sangat mempengaruhi kekuatan suatu partai. Karena kemajemukan masyarkat membuat mereka memunculkan pandangan tersendiri tentang partai politik yang dianut.

    Kemajemukan telah menyebabkan konflik diantara masyarakat. Akan tetapi, sifat-sifat masyarakat majemuk telah menyebabkan landasan terjadinya integrasi sosial. Yakni kesepakan untuk hidup bersama. Dengan tujuan yang sama, konsensus yang terbentuk membuat masyarakat terintegrasi. Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus diantara sebagian besar anggota masyarakat akan nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental. Namun, suatu masyarakat juga senantiasa terintegrasi oleh karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota berbagai kesatuan sosial. Dengan demikian, setiap konflik yang terjadi diantara suatu kesatuan sosial dengan kesatuan-kesatuan sosial yang lain segera akan ternetralisir oleh adanya loyalitas ganda dari para anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan soisal. 

Konflik yang selalu ewarnai kehidupan sosial, apalagi dengan kemajemukan masyarakat yang ada. Menyebabkan kehidupanmasyarakat tidak pernah luput dari konflik. Terutama konflik ideologis. Lebih mudah disimak dalam perbedaan agama, karena banyaknya agama yang dianut oleh mayarakat Indonesia. Perbedaan agama seringkali bertemu juga dengan perbedaan suku bangsa. Kemudian konflik ideologis juga semakin merasuk dalam perbedaan itu. Sementara di lapisan sosial masyarakat, konflik ideologis juga menjadi hal yang kentara. Kerana pengelompikan staus sosial yang sangat mencolok membuat lapisan-lapisan sosial tersebut semakin terlihat dan memperlihatkan perbedaan. Hukum yang dianggap sebagai suatu penyelesaian, juga terdapat perbedaan pandangan nilai didalamnya antara suatu perkumpulan masyarakat yang menganut nilai konsepsi hukumnya tersendiri. Maka perbedaan nilai-nilai konsepsi hukum antara perbedaan agama, suku bangsa, dan lapisan sosial, tidak dapat bertemu sinergi keadilan yang sesuai.

Konflik-konflik diantara berbagai golongan dalam masyarakat, membuat sulitnya untuk menumbuhkan aturan main. Oleh karena itu, tidak mengherankan pula apabila konflik ideologis tersebut tumbuh berdampingan juga dengan konflik-konflik yang bersifat politis. Kesimpulan para peneliti tentang indonesia sebagai negara paling tidak stabil menjadi bukti betapa kebhinnekaan di dalam masyarakat masih belum berkonsensus pasti. Pancasila sebagai konsensus nasional masih merupakan cita-cita yang harus diperjuangkan. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika masih merupaka suatu cita-cita dan tujuan yang belum sepenuhnya tergapai.

Pengarang menjabarkan kehidupan lamapu bangsa Indonesia yang ternyata berbhinneka semenjak dahulu. Struktur sosial yang terbentuk dari zaman Hindia-Belanda memang mengarahkan masyarakat pada mencoloknya perbedaan dan berbagai pembeda. Perlakuan dibedakan sudah ada sejak dahulu. Bahkan sangat kentara dengan strata sosial sebagai warga biasa dan regional suku tertentu. Namun semakin mengarah pada pergerakan masional dan kemerdekaan, masyarakat mulai terintegrasi diatas oerbedaan. Munculnya konsensus nasional membuat masyarakat tumbuh berintegrasi. Kekuatan dan pertahanan yang dibendung adalah wujud dari konsensus nasional yang disepakati bersama oleh masyarakat.

Dalam dua bab terakhir buku ini, pengarang semakin membawa pembaca menelusuri kemajemukan di Indonesia bahkan sejak zaman sebelum merdeka. Menyegarkan pikiran pembaca tentang sejarah yang pernah menghinggapi kepala pembaca sebagai sebuah cerita atau hal yang dipelajari. Membuat pembaca menerka dan mengembangkan imajiansi pikirannya tentang hungungan diantaranya. Pengarang juga menyajikan penjelasan yang sangat detail dengan adanya bagan yang disertakan sebagai penjelasan. Begitupun dengan konsep yang dialirkan pngarang bahwa pkasaan bukan lah kunci utama untuk menuju pada integrasi nasional. Penulis setuju dengan hal tersebut. Karena kekuatan bangsa Indonesia memang terdapat apda kemajemukannya. Dan masyarakat harus bisa menyatukan tujuan diatas kemajemukan tersebut.

Review Buku Sistem Sosial Indonesia Bab 1-3 (Dr. Nasikun)

Buku yang akan penulis review adalah buku karangan Dr. Nasikun yang berjudul “Sistem Sosial Indonesia”. Yakni bab 1 hingga bab 3 atau halaman 1 hingga halaman 50. Buku tipis yang memuat banyak gagasan perihal sistem sosial indonesia. 

Pengarang berusaha memaparkan sistem sosial indonesia sebagai perwujudan dari ada atau tidaknya integrasi masyarakat. Masyarakat yang dapat terstratifikasi dalam berbagai kategori menurut pengklasifikasiannya masing-masing, mendapati status dan keadaan sosial yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dan keadaan tersebut akan memunculkan adanya kaum yang mendominasi keadaan dan juga mendominasi kaum lainnya. Untuk kemudian memicu mereka mempunyai kepentingan-kepentingan tersendiri yang akan membedakannya dengan masyarakat lainnya. Yang demikian itu, tentu akan menimbulkan konflik dalam masyarakat. Konflik internal yang terjadi menyebabkan ternodainya semangat gotong royong yang dimuliakan selama ini. Meragukan bahwa semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan atau gambaran tentang keadaan masyarakat Indonesia. Lebih dari itu, masih merupakan cita-cita yang harus diperjuangkan.
    
Pembicaraan masalah integrasi dalam analisa pengarang adalah masalah yang klasik sejak awal sejarah pertumbuhan teori-teori sosiologi. Dan pertanyaan tentang integrasi tersebut telah menimbulkan berbagai aliran pemikiran dari para ahli sosiologi. Untuk kemudian menghasilkan penetapan pendekatan sebelum pembahasan tanpa arah terjadi. Dua pendekatan kontroversial yang diangkat penulis menerangkan perbedaan yang kontras terhadap masalah klasik tersebut. Pendekatan yang pertama adalah pendekatan fungsioal struktural yang menganggap bahwa masyarakat pada dasarnya terintegrasi atas dasar kata sepakat para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu. Menekankan bahwa norma sosial adalah pembentuk struktur sosial, dilatarbelakangi oleh interaksi sosial yang tumbuh berkembang tidak secara kebetulan. Sedangkan pendekatan kedua adalah pendekatan konflik, yang beranggapan bahwa setiap masyarakat berada dalam proses perubahan yang tidak pernah berakhir. Menekankan bahwa masyarakat mempunyai peran bagi terjadinya disintegrasi dari perubahan-perubahan sosial.
Gagasan umum tentang pembentuk strukural masyarakat membentuk sistem sosial itu sendiri. Bahwa konsensus dan konflik adalah gejala sosial yang melekat dalam kehidupan mayarakat. Konsensus yang dibangun diatas musyawarah atau lainnya, sudah pasti akan menimbulkan konflik yang lebih tinggi untuk menjadi pembanding atau perbedaan pandangan mengenai sesuatu hal. Pendekatan fungsionalisme struktural menganggap bahwa sistem sosial memiliki kecenderungan untuk mencapai stablitas diatas konsensus para anggota masyarakat akan nilai sosial tertentu. Mereka mengabaikan bahwa struktur sosial memiliki konflik dan kontradiksi internal yang senantiasa terjadi dan bahkan dapat menyebabkan perubahan sosial. Pendekatan konflik menutup kelemahan tersebut. Mereka berpendapat bahwa kepentingan masing-masing kelompok berbeda satu sama lain. Dan itu menyebabkan kelompok-kelompok tersebut selalu berada dalam kondisi konflik. Yang dapat dilakukan adalah menjaga agar konflik yang terjadi tidak melahirkan kekerasan. Bentuk pengendalian konflik mulai dari konsoliasi, mediasi, hingga arbitrasi dipandang sebagai pengendalian konflik bertingkat namun mereka juga berdiri sendiri.
Struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh dua ciri unik. Secara horizontal, ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan suku bangsa, agama, dan kedaerahan. Secara vertikal, ditandai oleh adanya perbedaan antara lapisan atas dan lapian bawah yang cukup tajam. Menandai kemajemukan di Indonesia, agaknya terjadi sebelum masyarakat mulai sibuk memperdebatkan sistem sosial. Seperti halnya kemajemukan agama, adat istiadat, yang memang sudah ada sejak zaman dahulu. Masyarakat Indonesia terbagi kedalam sub-sistem yang berdiri sendiri dimana masing-masing sub-sistem terikat kedalam oleh ikatan yang bersifat primodial. Faktor keadaan geografis menjadi penyebab kemajemukan masyarakat Indonesia. Mengingat bentangan luas Indonesia di sepanjang khatulistiwa dengan ribuan pulau dan dikelilingi dua samudera besar yang menjadi lalu lintas perdangan laut kancah internasional. Faktor iklim yang berbeda dan struktur tanah yang tidak sama setiap daerah juga menjadi kemajemukan tersendiri bagi struktur sosial yang dimunculkannya. Mulai dari perbedaan hasil produksi tiap daerah, misalnya jawa dan luar jawa. Lingkungan ekologis tersebut lebih jauh menyebabkan terjadinya perbedaan kontras dalam berbagai bidang. Menyebabkan adanya pemberatan bobot mengenai struktural kependudukan, ekonomi, sosial, dan budaya.

Pulau jawa memiliki dominasi terhadap struktur kemajuan pembangunannya. Menjadi fokus utama pembangunan negara. Karena sentral pemerintahan ada di pulau jawa. Keadaan tersebut memaksa jawa untuk menjadi pusat pertumbuhan dalam berbagai bidang. Infra struktur dan peningkatan kualitas hidup baik dalam bidang pedidikan atau kesehatan terjadi secara kontinuitas dan semakin dinamis. Dan pusat pembangunan menjadi alasan utama pemenuhan penduduk. Hal tersebut juga menyebabkan banyak permasalahan di pulau jawa. Petani tidak menemukan kualitas bertani yang mendatangkan kekayaan karena mayoritas petani jawa adalah petani miskin yang hanya mempunyai lahan kecil. Sementara di luar jawa, keadaannya berbanding terbalik dengan jawa. Struktur sosial yang tercipta juga menimbulkan perbedaan antara masyarakat yang mendiami pulau jawa dan luar jawa. Mayoritas penduduk jawa memang memiliki cara pandang yang lebih baik dan lebih modern dibandingkan dengan penduduk luar jawa. Status kekayaan juga sangat mendominasi perbedaan struktur masyarakat Indonesia.
Pengarang memulai tulisannya dengan bab pendahuluan yang mengantar pembaca kepada materi-meteri utama. Bab tersebut mengindikasikan adanya pengantar materi atau selayang pandang bagi keseluruhan buku ini. Walaupun di dalamnya memuat materi dasar tentang sedikit pemikiran mengenai sistem sosial. Namun, penulis secara tidak langsung membuka pikiran pembaca agar mulai memasuki alur penulisan penulis terhadap buku tersebut. Memancing pembaca dengan suguhan pertanyaan di ujung pemaparan gagasan. Membantu pembaca untuk relaksasi terhadap persiapan materi utama dalam buku.
Akan tetapi, pengarang memiliki kecenderungan untuk mendominasi gagasan alur pikiran yang rumit. Tidak sederhana untuk dipahami. Sistem sosial yang berkembang dinamis dan tidak memiliki acuan pasti seharusnya menyajikan metri yang sederhana dan mudah dipahami. Pemilihan kata tidak begitu diperhatikan sehingga pembaca dibuat berputar-putar dalam kubangan kalimat yang tidak berporos. Bab bab yang disusun memang mengacu untuk memaparkan keadaan struktural indonesia sebagai cikal bakal perwujudan sistem sosial Indonesia. Namun, bab bab yang terdapat dalam buku ini seperti berdiri sendiri-sendiri dan tidak sinergi. Mungkin pengarang mengajak pembaca mengikuti alur analisanya yang sangat luas. Sehingga pengarang tidak begitu memperdulikan korelasi antar bab secara sinergi yang membuat pembaca lebih mudah memahami isi buku secara berkala. Dan pembaca akan lebih mudah masuk dalam alur pemikiran pengarang sesuai dengan imajinasi mereka. Terlepas dari semua itu, buku ini adalah buku tipis yang kaya akan gagasan mengenai pemaparan sistem sosial Indonesia. 

Template by:

Free Blog Templates